Beranda > News > Pesantren Jangan Takut Internet

Pesantren Jangan Takut Internet

Jakarta – Pondok pesantren selama ini kadang diidentikkan dengan stereotip memiliki aturan ketat dan tertutup terhadap perubahan. Padahal dengan pesatnya kemajuan teknologi, pesantren tak harus takut membuka diri, salah satunya terhadap internet.

Menurut Pradna, pembina para santri di komunitas M2Net pondok pesantren Al Hikmah 2, Bumi Ayu, Jawa Tengah, harusnya pesantren dapat lebih fleksibel dalam menghadapi kemajuan internet.

“Jangan dikekang, tapi diarahkan. Itu (internet-red.) bisa menjadi kekuatan untuk menampilkan konten lokal di pondok pesantren,” tukasnya kepada detikINET, Jumat (27/2/20120).

M2Net sendiri adalah organisasi jurnalis di pondok pesantren Al Hikmah 2. Kelompok inilah — yang diarahkan Pradna dan dua orang rekannya — mampu menciptakan tiga film pendek terkait kebebasan berekspresi serta melombakannya di event yang digagas ICT Watch dan menyabet juara ketiga.

Hanya saja keberadaan video-video tersebut ternyata mengusik pengurus pondok pesantren. Hingga kemudian, santri yang tergabung dalam M2Net kena teguran lantaran dianggap menghina pondok pesantren.

Memang jika dilihat dari video-video yang ditampilkan, M2Net ingin sedikit berbagi tentang kehidupan yang terjadi di pondok pesantren. Hanya saja tujuan mereka bukan untuk menghina.

“Nah, ini loh yang harusnya di-clear-kan. Dengan internet kita bisa membuat situs berita, jurnal terkait kondisi pondok, dan memperkenalkan pesantren Al Hikmah 2 itu seperti apa? Bukan malah dikekang,” tukas Pradna.

Beruntung, pesantren Al Hikmah 2 saat ini sudah mulai membuka diri terhadap internet. Dimana di dalam kompleks pesantren ada warnet yang berdiri dan bisa digunakan para santri. Hanya saja kasus yang terjadi belakangan sedikit banyak cukup mengusik para santri yang terkait.

Menilai polemik ‘kebebasan berekspresi’ ini, aktivis Freedom of Expression Donny BU berpendapat bahwa pesantren tentu punya nilai-nilai yang mereka jaga, nilai agama dan nilai kultural. Dan ini perlu kita hormati, sebagai hak prerogatif pengelola pondok pesantren.

“Terkait penyoalan terhadap internet ataupun video tersebut, kita harus bijak melihatnya. Apakah sebagai kekhawatiran atas gesekan (dampak) nilai pada nilai agama ataukah kultural?” tukas bapak satu anak yang juga menjadi perintis ICT Watch ini.

Jadi kasusnya juga harus kita telaah benar, apakah pada isu nilai yang dibawa internet ataukah pada konten yang ada di dalam videonya.

Justru kita harus mengajak dan menggandeng banyak teman, khususnya dari komunitas yang tradisional ataupun agamis, dengan cara yang baik dan amanah. Supaya pelan-pelan bisa kita kikis bersama kekhawatiran/resistensi atas sesuatu yang sebenarnya mungkin tidak perlu,” ia menandaskan.

source : detikinet.com

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: